Ikatan Kimia
|
I
|
katan
kimia adalah sebuah proses fisika yang bertanggung jawab dalam interaksi gaya
tarik menarik antara dua atom atau molekul yang menyebabkan suatu senyawa
diatomik atau poliatomik menjadi stabil. Penjelasan mengenai gaya tarik menarik
ini sangatlah rumit dan dijelaskan oleh elektrodinamika kuantum. Dalam
prakteknya, para kimiawan biasanya bergantung pada teori kuantum atau
penjelasan kualitatif yang kurang kaku (namun lebih mudah untuk dijelaskan)
dalam menjelaskan ikatan kimia. Secara umum, ikatan kimia yang kuat
diasosiasikan dengan transfer elektron antara dua atom yang berpartisipasi.
Ikatan kimia menjaga molekul-molekul, kristal, dan gas-gas diatomik untuk tetap
bersama. Selain itu ikatan kimia juga menentukan struktur suatu zat.
Kekuatan
ikatan-ikatan kimia sangatlah bervariasi. Pada umumnya, ikatan kovalen dan
ikatan ion dianggap sebagai ikatan "kuat", sedangkan ikatan hidrogen
dan ikatan van der Waals dianggap sebagai ikatan "lemah". Hal yang
perlu diperhatikan adalah bahwa ikatan "lemah" yang paling kuat dapat
lebih kuat daripada ikatan "kuat" yang paling lemah.
Teori Ikatan Valensi
Pada
tahun 1927, teori ikatan valensi dikembangkan atas dasar argumen bahwa sebuah
ikatan kimia terbentuk ketika dua valensi elektron bekerja dan menjaga dua inti
atom bersama oleh karena efek penurunan energi sistem. Pada tahun 1931,
beranjak dari teori ini, kimawan Linus Pauling mempublikasikan jurnal ilmiah
yang dianggap sebagai jurnal paling penting dalam sejarah kimia: "On the
Nature of the Chemical Bond". Dalam jurnal ini, berdasarkan hasil kerja
Lewis dan teori valensi ikatan Heitler dan London, dia mewakilkan enam aturan
pada ikatan elektron berpasangan:
1.
Ikatan elektron berpasangan terbentuk melalui interaksi elektron tak-berpasangan
pada masing-masing atom.
2.
Spin-spin elektron haruslah saling berlawanan.
3.
Seketika dipasangkan, dua elektron tidak bisa berpartisipasi lagi pada ikatan
lainnya.
4.
Pertukaran elektron pada ikatan hanya melibatkan satu persamaan gelombang untuk
setiap atom.
5.
Elektron-elektron yang tersedia pada aras energi yang paling rendah akan
membentuk ikatan-ikatan yang paling kuat.
6.
Dari dua orbital pada sebuah atom, salah satu yang dapat bertumpang tindih
paling banyaklah yang akan membentuk ikatan paling kuat, dan ikatan ini akan
cenderung berada pada arah orbital yang terkonsentrasi.
Teori Orbital Molekul
Teori
orbital molekul (Bahasa Inggris: Molecular orbital tehory), disingkat MO,
menggunakan kombinasi linear orbital-orbital atom untuk membentuk orbital-orbital
molekul yang menrangkumi seluruh molekul. Semuanya ini seringkali dibagi
menjadi orbital ikat, orbital antiikat, dan orbital bukan-ikatan. Orbital
molekul hanyalah sebuah orbital Schrödinger yang melibatkan beberapa inti atom.
Jika orbital ini merupakan tipe orbital yang elektron-elektronnya memiliki
kebolehjadian lebih tinggi berada di antara dua inti daripada di lokasi
lainnya, maka orbital ini adalah orbital ikat dan akan cenderung menjaga kedua
inti bersama. Jika elektron-elektron cenderung berada di orbital molekul yang
berada di lokasi lainnya, maka orbital ini adalah orbital antiikat dan akan
melemahkan ikatan. Elektron-elektron yang berada pada orbital bukan-ikatan
cenderung berada pada orbital yang paling dalam (hampir sama dengan orbital
atom), dan diasosiasikan secara keseluruhan pada satu inti. Elektron-elektron
ini tidak menguatkan maupun melemahkan kekuatan ikatan.
Perbandingan Antara Teori Ikatan
Valensi Dan Teori Orbital Molekul
Pada
beberapa bidang, teori ikatan valensi lebih baik daripada teori orbital
molekul. Ketika diaplikasikan pada molekul berelektron dua, H2, teori ikatan
valensi, bahkan dengan pendekatan Heitler-London yang paling sederhana,
memberikan pendekatan energi ikatan yang lebih dekat dan representasi yang lebih
akurat pada tingkah laku elektron ketika ikatan kimia terbentuk dan terputus.
Sebaliknya, teori orbital molekul memprediksikan bahwa molekul hidrogen akan
berdisosiasi menjadi superposisi linear dari hidrogen atom dan ion hidrogen
positif dan negatif. Prediksi ini tidak sesuai dengan gambaran fisik. Hal ini
secara sebagian menjelaskan mengapa kurva energi total terhadap jarak antar
atom pada metode ikatan valensi berada di atas kurva yang menggunakan metode
orbital molekul. Situasi ini terjadi pada semua molekul diatomik homonuklir dan
tampak dengan jelas pada F2 ketika energi minimum pada kurva yang menggunakan
teori orbital molekul masih lebih tinggi dari energi dua atom F.
Konsep
hibridisasi sangatlah berguna dan variabilitas pada ikatan di kebanyakan senyawa
organik sangatlah rendah, menyebabkan teori ini masih menjadi bagian yang tak
terpisahkan dari kimia organik. Namun, hasil kerja Friedrich Hund, Robert
Mulliken, dan Gerhard Herzberg menunjukkan bahwa teori orbital molekul
memberikan deskripsi yang lebih tepat pada spektrokopi, ionisasi, dan
sifat-sifat magnetik molekul. Kekurangan teori ikatan valensi menjadi lebih
jelas pada molekul yang berhipervalensi (contohnya PF5) ketika molekul ini
dijelaskan tanpa menggunakan orbital-orbital d yang sangat krusial dalam
hibridisasi ikatan yang diajukan oleh Pauling. Logam kompleks dan senyawa yang
kurang elektron (seperti diborana) dijelaskan dengan sangat baik oleh teori
orbital molekul, walaupun penjelasan yang menggunakan teori ikatan valensi juga
telah dibuat.
Pada
tahun 1930, dua metode ini saling bersaing sampai disadari bahwa keduanya
hanyalah merupakan pendekatan pada teori yang lebih baik. Jika kita mengambil
struktur ikatan valensi yang sederhana dan menggabungkan semua struktur kovalen
dan ion yang dimungkinkan pada sekelompok orbital atom, kita mendapatkan apa
yang disebut sebagai fungsi gelombang interaksi konfigurasi penuh. Jika kita
mengambil deskripsi orbital molekul sederhana pada keadaan dasar dan
mengkombinasikan fungsi tersebut dengan fungsi-fungsi yang mendeskripsikan
keseluruhan kemungkinan keadaan tereksitasi yang menggunakan orbital tak terisi
dari sekelompok orbital atom yang sama, kita juga mendapatkan fungsi gelombang
interaksi konfigurasi penuh. Terlihatlah bahwa pendekatan orbital molekul yang
sederhana terlalu menitikberatkan pada struktur ion, sedangkan pendekatan teori
valensi ikatan yang sederhana terlalu sedikit menitikberatkan pada struktur
ion. Dapat kita katakan bahwa pendekatan orbital molekul terlalu
ter-delokalisasi, sedangkan pendekatan ikatan valensi terlalu ter-lokalisasi.
Sekarang
kedua pendekatan tersebut dianggap sebagai saling memenuhi, masing-masing
memberikan pandangannya sendiri terhadap masalah-masalah pada ikatan kimia.
Perhitungan modern pada kimia kuantum biasanya dimulai dari (namun pada
akhirnya menjauh) pendekatan orbital molekul daripada pendekatan ikatan
valensi. Ini bukanlah karena pendekatan orbital molekul lebih akurat dari
pendekatan teori ikatan valensi, melainkan karena pendekatan orbital molekul
lebih memudahkan untuk diubah menjadi perhitungan numeris. Namun program-progam
ikatan valensi yang lebih baik juga tersedia.
Ikatan Dalam Rumus Kimia
Bentuk
atom-atom dan molekul-molekul yang 3 dimensi sangatlah menyulitkan dalam
menggunakan teknik tunggal yang mengindikasikan orbital-orbital dan
ikatan-ikatan. Pada rumus molekul, ikatan kimia (orbital yang berikatan)
diindikasikan menggunakan beberapa metode yang bebeda tergantung pada tipe
diskusi. Kadang-kadang kesemuaannya dihiraukan. Sebagai contoh, pada kimia
organik, kimiawan biasanya hanya peduli pada gugus fungsi molekul. Oleh karena
itu, rumus molekul etanol dapat ditulis secara konformasi, 3-dimensi, 2-dimensi
penuh (tanpa indikasi arah ikatan 3-dimensi), 2-dimensi yang disingkat
(CH3–CH2–OH), memisahkan gugus fungsi dari bagian molekul lainnnya (C2H5OH),
atau hanya dengan konstituen atomnya saja (C2H6O). Kadangkala, bahkan kelopak
valensi elektron non-ikatan (dengan pendekatan arah yang digambarkan secara
2-dimensi) juga ditandai. Beberapa kimiawan juga menandai orbital-orbital atom,
sebagai contoh anion etena−4 yang dihipotesiskan (\/C=C/\ −4) mengindikasikan
kemungkinan pembentukan ikatan.
Ikatan Kuat Kimia
Ikatan-ikatan
berikut adalah ikatan intramolekul yang mengikat atom-atom bersama menjadi
molekul. Dalam pandangan yang sederhana dan terlokalisasikan, jumlah elektron
yang berpartisipasi dalam suatu ikatan biasanya merupakan perkalian dari dua,
empat, atau enam. Jumlah yang berangka genap umumnya dijumpai karena elektron
akan memiliki keadaan energi yang lebih rendah jika berpasangan. Teori-teori
ikatan yang lebih canggih menunjukkan bahwa kekuatan ikatan tidaklah selalu
berupa angka bulat dan tergantung pada distribusi elektron pada setiap atom
yang terlibat dalam sebuah ikatan. Sebagai contohnya, karbon-karbon dalam
senyawa benzena dihubungkan satu sama lain oleh ikatan 1.5 dan dua atom dalam
nitrogen monoksida NO dihubungkan oleh ikatan 2,5. Keberadaan ikatan rangkap
empat juga diketahui dengan baik. Jenis-jenis ikatan kuat bergantung pada perbedaan
elektronegativitas dan distribusi orbital elektron yang tertarik pada suatu
atom yang terlibat dalam ikatan. Semakin besar perbedaan elektronegativitasnya,
semakin besar elektron-elektron tersebut tertarik pada atom yang berikat dan
semakin bersifat ion pula ikatan tersebut. Semakin kecil perbedaan
elektronegativitasnya, semakin bersifat kovalen ikatan tersebut.
Ikatan Kovalen
Ikatan
kovalen adalah ikatan yang umumnya sering dijumpai, yaitu ikatan yang perbedaan
elektronegativitas (negatif dan positif) di antara atom-atom yang berikat
sangatlah kecil atau hampir tidak ada. Ikatan-ikatan yang terdapat pada
kebanyakan senyawa organik dapat dikatakan sebagai ikatan kovalen. Lihat pula
ikatan sigma dan ikatan pi untuk penjelasan LCAO terhadap jenis ikatan ini.
Ikatan Polar Kovalen
Ikatan
polar kovalen merupakan ikatan yang sifat-sifatnya berada di antara ikatan
kovalen dan ikatan ion.
Ikatan Ion
Ikatan
ion merupakan sejenis interaksi elektrostatik antara dua atom yang memiliki
perbedaan elektronegativitas yang besar. Tidaklah terdapat nilai-nilai yang
pasti yang membedakan ikatan ion dan ikatan kovalen, namun perbedaan
elektronegativitas yang lebih besar dari 2,0 bisanya disebut ikatan ion,
sedangkan perbedaan yang lebih kecil dari 1,5 biasanya disebut ikatan
kovalen.[3] Ikatan ion menghasilkan ion-ion positif dan negatif yang berpisah.
Muatan-muatan ion ini umumnya berkisar antara -3 e sampai dengan +3e
![]() |
Ikatan Kovalen Koordinat
Ikatan
kovalen koordinat, kadangkala disebut sebagai ikatan datif, adalah sejenis
ikatan kovalen yang keseluruhan elektron-elektron ikatannya hanya berasal dari
salah satu atom, penderma pasangan elektron, ataupun basa Lewis. Konsep ini
mulai ditinggalkan oleh para kimiawan seiring dengan berkembangnya teori
orbital molekul. Contoh ikatan kovalen koordinat terjadi pada nitron dan
ammonia borana. Susunan ikatan ini berbeda dengan ikatan ion pada perbedaan
elektronegativitasnya yang kecil, sehingga menghasilkan ikatan yang kovalen.
Ikatan ini biasanya ditandai dengan tanda panah. Ujung panah ini menunjuk pada
akseptor elektron atau asam Lewis dan ekor panah menunjuk pada penderma
elektron atau basa Lewis
Ikatan Pisang
Ikatan
pisang adalah sejenis ikatan yang terdapat pada molekul-molekul yang mengalami
terikan ataupun yang mendapat rintangan sterik, sehingga orbital-orbital ikatan
tersebut dipaksa membentuk struktur ikatan yang mirip dengan pisang. Ikatan
pisang biasanya lebih rentan mengalami reaksi daripada ikatan-ikatan normal
lainnya.
![]() |
Ikatan 3c-2e Dan 3c-4e
Dalam
ikatan tiga-pusat dua-elektron, tiga atom saling berbagi dua elektron. Ikatan
sejenis ini terjadi pada senyawa yang kekurangan elektron seperti pada
diborana. Setiap ikatan mengandung sepasang elektron yang menghubungkan atom
boron satu sama lainnya dalam bentuk pisang dengan sebuah proton (inti atom
hidrogen) di tengah-tengah ikatan, dan berbagi elektron dengan kedua atom
boron. Terdapat pula Ikatan tiga-pusat empat-elektron yang menjelaskan ikatan
pada molekul hipervalen.
Ikatan Tiga Elektron Dan Satu
Elektron
Ikatan-ikatan
dengan satu atau tiga elektron dapat ditemukan pada spesi radikal yang memiliki
jumlah elektron gasal (ganjil). Contoh paling sederhana dari ikatan satu
elektron dapat ditemukan pada kation molekul hidrogen H2+. Ikatan satu elektron
seringkali memiliki energi ikat yang setengah kali dari ikatan dua elektron,
sehingga ikatan ini disebut pula "ikatan setengah". Namun terdapat
pengecualian pada kasus dilitium. Ikatan dilitium satu elektron, Li2+, lebih
kuat dari ikatan dilitium dua elektron Li2. Pengecualian ini dapat dijelaskan
dengan hibridisasi dan efek kelopak dalam. [4]
Contoh
sederhana dari ikatan tiga elektron dapat ditemukan pada kation dimer helium,
He2+, dan dapat pula dianggap sebagai "ikatan setengah" karena
menurut teori orbital molekul, elektron ke-tiganya merupakan orbital antiikat
yang melemahkan ikatan dua elektron lainnya sebesar setengah. Molekul oksigen
juga dapat dianggap memiliki dua ikatan tiga elektron dan satu ikatan dua
elektron yang menjelaskan sifat paramagnetiknya.[5]



{ 0 komentar...Tambahkan Komentar Anda }
Posting Komentar